StickEarn menambah layanan StickMart di dalam kendaraan

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Untuk lebih mengoptimalkan layanan iklan sekaligus bisa berjualan, perusahaan penyedia iklan di kendaraan, StickEarn melansir layanan bernama StickMart.

Ini adalah layanan yang berbentuk sebuah kotak yang ada di dalam kendaraan yang berisi ragam produk yang bisa dijual serta layar mini untuk menampilkan iklan.   

Sugito Alim, Co Founder StrickEarn menyebut untuk bisa merealisasikan layanan tersebut pihaknya menggandeng Grab. “Kerjasama ini untuk meningkatkan engagement dengan konsumen di Asia Tenggara,” katanya saat peluncuran StickMart, Kamis (18/10).

Memang tujuan StickEarn melansir StickMart adalah bisa menjangkau pasar Asia Tenggara. Namun untuk tahap awal, pihaknya bakal menyasar pasar domestik terlebih dahulu.

Nah, saat ini sudah ada 200 pengemudi Grab yang menggunakan StickMart. Di situ, para pengemudi bisa menawarkan beberapa produk.

Sayang, Sugito tidak merinci soal target bisnis dari kerjasama tersebut. Tapi ia targetkan layanan StickMart ini sudah tersedia di 10.000 mitra pengemudi Grab. Adapun jumlah produk yang dijajakan bisa mencapai 10 produk – 15 produk di tahun depan.

Reporter: Denisa Kusuma
Editor: Markus Sumartomjon

Reporter: Denisa Kusuma
Editor: Markus Sumartomjon

BISNIS START-UP

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Telkomsel siap gelar pertandingan gim di 141 kota

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah membeli dua lisensi gim belum lama ini, Telkomsel bakal mengoptimalkan pendapatan di bisnis gim. Kali ini lewat ajang pertandingan gim.

Bila tidak ada halangan, anak usaha Telkom ini akan menggelar Liga eSport. Ini adalah rangkaian dari Indonesia Games Championships yang bakal berlangsung tahun depan.

Auliya Fadli, General Manager Games and Apps Division Telkomsel , menyatakan ajang tersebut bakal berlangsung di 141 kota. Tahap final dari laga tersebut bakal berlangsung Maret 2019 yakni di Dunia Games E-sport Stadium di Pluit yang dibangun Telkomsel.

Ia tidak merinci nilai investasi untuk membangun arena pertandingan gim tersebut. Termasuk hasil yang ingin dicapai Telkomsel dari ajang tersebut.

Head  of Digital Lifesytle Telkomsel, Crispin P Tristram hanya menyebutkan bahwa ajang tersebut nantinya bakal diikuti oleh sekitar 45.000 peserta. Selama berlangsungnya pertandingan, ia targetkan bakal ada sekitar 60 juta online viewers.

Saat ini bisnis gim sudah berkontribusi sekitar 34% dari bisnis digital Telkomsel. Ditargetkan bisa melonjak 50% sampai akhir tahun ini.
 

Reporter: Venny Suryanto
Editor: Markus Sumartomjon

Reporter: Venny Suryanto
Editor: Markus Sumartomjon

PERMAINAN / GIM

Ekspansi Valdo Group di layanan smart city

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah menggarap TokoPandai, Valdo Group makin ekspansif mengembangkan lini bisnis. Kali ini bukan dibidang layanan tekfin bagi usaha kecil dan menengah yang ada di TokoPandai, melainkan platform layanan pintar di wilayah semacam smart city.  

Reza Valdo Maspaitella, Presiden Direktur Valdo Group mengatakan pihaknya saat ini tengah mengembangkan dua ekosistem digital anyar. Yakni smart province dan smart city. Kedua platform tersebut dikerjakan oleh anak usaha Valdo Group yakni Valdo Digital Lab.  

Untuk bisa merealisasikan platform tersebut, Valdo Group sudah menggandeng pemerintah daerah untuk bisa menerapkan platfom sejenis smart city tersebut. “Saat ini Valdo Digital Lab tengah melakukan persiapan di Yogyakarta lewat Jogya@ccess dan penerapan smart city di Ambon melalui Ambon@ccess,”  tuturnya, Senin (15/10).

Reza tidak menjelaskan lebih lanjut soal realisasi pengoperasian dari dua platform smart city tersebut. Termasuk investasi yang dikeluarkan perusahaan tersebut.
Dalam pengembangan platform digital, Valdo berupaya tidak merusak tatanan yang sudah ada.

Catatan saja, belum lama ini, TokoPandai mendapat tempat di ajang pertemuan IMF dan Bank Dunia sebagai salah satu platfom tekfin inovatif dari Indonesia.

Reporter: Denisa Kusuma
Editor: Markus Sumartomjon

Reporter: Denisa Kusuma
Editor: Markus Sumartomjon

BISNIS START-UP

Renyah tawaran gerai ayam CFC

KONTAN.CO.ID – Anda pasti sudah tak asing lagi dengan brand California Fried Chicken (CFC). Gerai ayam goreng krispi ini merupakan salah satu pemain besar di bisnis ayam goreng renyah tanah air. 

Berdiri sejak 1983, kini sudah ada 285 gerai CFC yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, 20% gerai diantaranya merupakan waralaba.  

Regional Manager Franchise CFC, Syaparudi atau yang akrab disapa Rudi menjelaskan, ada dua sistem kemitraan CFC. Yakni, sistem Joint Venture (JV) dan sistem franchise biasa. Untuk sistem JV, paketnya senilai Rp 450 juta. “Biaya Rp 450 juta itu perkiraan untuk sewa tempat dan renovasi. Sedangkan, biaya operasional, seperti pengadaan peralatan, bahan baku dan karyawan ditanggung oleh pusat,” jelas Rudi. 

Sistem JV menerapkan skema bagi hasil.  Jadi, mitra bakal mendapat 11% dari total omzet perbulan. “Target omzet minimal JV ini Rp 200 juta per bulan,” kata dia. 

Sedangkan untuk sistem franchise biasa, CFC menawarkan tiga paket, yaitu paket dining Rp 400 juta, paket food court Rp 330 juta, dan paket satelit Rp 115 juta. Mitra mendapat fasilitas kerjasama brand dan franchise selama 5 tahun, peralatan usaha lengkap, desain interior dan layout, sistem operasional, seragam dan pelatihan karyawan. 

Rudi mengatakan investasi ketiga paket tersebut di luar dari biaya sewa tempat, renovasi, dan bahan baku awal. Setiap paket investasi juga memiliki ketentuan minimal luas tempat yang berbeda. Mulai dari 9 m², 45 m² hingga 120 m².  “Khusus paket satelit, mitra harus punya paket dining lebih dulu untuk pusat dapurnya,” kata Rudi.  

Soal perkiraan omzet, Rudi menjelaskan, tiap paket juga memiliki target yang berbeda. Target omzet paket dining minimal Rp 300 juta per bulan, paket foodcourt Rp 180 juta, dan paket satelit Rp 60 juta. Ia mengatakan, gerai mitra yang telah bergabung, rata-rata mencapai balik modal 24-30 bulan. 

Untuk sistem franchise ini, ada biaya royalti. “Tahun pertama 5% tiap bulan, tahun kedua 6% dan tahun ketiga 7%,” ungkap Rudi. Mitra juga wajib memasok semua bahan baku dari pusat. 

CFC sendiri menjual beragam menu siap saji, seperti paket ayam goreng renyah, burger, kentang goreng, sosis, sup, spageti, dan sebagainya. Harganya mulai Rp 20.000 sampai Rp 125.000 per porsi. Semua gerai mitra harus mengikuti acuan harga jual pusat.  

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Supit berpendapat kemitraan bisnis menu ayam goreng renyah memang masih menjanjikan. Namun, persaingan sangat ketat. Namun, posisi brand CFC yang sudah cukup dikenal masyarakat bisa menjadi pertimbangan.                         

California Fried Chicken
Jl Palmerah Utara No. 100
Jakarta Barat
HP. 082262322074

Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

WARALABA

Lagi dan lagi, menyeruput laba segar bisnis thai tea

KONTAN.CO.ID – Segarnya bisnis thai tea masih terus diminati oleh para pelaku usaha minuman. Kini, minuman asal negeri Gajah Putih tersebut sangat mudah ditemukan. Banyak pelaku usaha baru bermunculan karena melihat potensi pasarnya yang cukup luas. 

Tawaran kemitraan thai tea kali ini datang dari Boss Thai Tea asal Jakarta besutan Kharisma Tri Wahyuni. Perempuan yang akrab disapa Yuni ini merupakan pemain baru dalam bisnis thai tea. Ia mendirikan Boss Thai Tea pada Agustus 2018 dan langsung menawarkan kemitraan. 

“Kami memang baru buka dan baru menawarkan kemitraan. Sekarang sudah ada tiga gerai di sekitar Jakarta. Satu gerai punya pusat, dua gerai punya mitra,” jelasnya. 

Ada dua paket kemitraan yang ditawarkan, yakni paket Rp 5,5 juta dan paket Rp 7,5 juta. Dengan modal tersebut mitra akan mendapatkan fasilitas booth, peralatan dan perlengkapan usaha lengkap, kemasan, media promosi, banner, pelatihan karyawan dan bahan baku awal sebanyak 100 porsi.

Yuni menjelaskan perbedaan kedua paket tersebut ada pada ukuran dan bahan booth, serta jumlah peralatan usaha. Untuk paket Rp 5,5 juta fasilitas booth berupa booth portable dari bahan stainless. Sedangkan fasilitas booth paket Rp 7,5 juta, berbahan kayu. 

Boss Thai Tea menawarkan enam varian rasa thai tea seperti original, green tea, Milo, coffe caramel, choco caramel, dan coffee yang dibanderol mulai Rp 10.000 -Rp 13.000 per cup.  “Harga jual, mitra bisa sesuaikan dengan sewa tempat masing-masing. Karena biaya sewa tiap lokasi beda-beda, mitra bisa menyesuaikan.,” katanya. 

Mitra tidak dikenakan biaya royalti bulanan, hanya perlu membeli bahan baku bubuk minuman dari pusat 

Yuni menjelaskan, dalam sehari, penjualan Boss Thai Tea bisa mencapai 50-100 cup. Sedangkan, di akhir pekan, penjualannya bisa mencapai 150 cup. Omzet dalam sehari berkisar Rp 500.000–Rp 1 juta. 

“Laba bersih bisa sekitar 30% – 40%. Jadi mitra bisa balik modal sekitar 2-4 bulan. Kalau tempat usahanya punya sendiri, malah sebulan sudah bisa balik modal,” tutur Yuni. 

Ia menuturkan meski saat ini bisnis thai tea makin menjamur dan banyak menawarkan harga yang lebih murah, ia menjamin Boss Thai Tea punya kualitas rasa yang lebih unggul.   

Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

KEMITRAAN

Mencoba peruntungan di kuliner Jepang

KONTAN.CO.ID – Berkembangnya bisnis kuliner Jepang di tanah air tak lepas dari inovasi menu yang dilakukan para pelaku usaha. Misalnya, menggabungkan berbagai elemen dalam kuliner, tidak melulu dari satu kawasan atau negara. Istilahnya fusion

Menu fusion lebih fleksibel dan relatif diterima pasar karena banyak penyesuaian rasa. Inilah yang membuat banyak pebisnis kepincut. Salah satunya Nagoya Fusion asal Yogyakarta besutan David Cahyanto. 

Berdiri 2010, Nagoya Fusion menawarkan kemitraan sejak 2015. Kini sudah ada 12 gerai yang beroperasi di sekitar Yogya, Solo, Muntilan, Magelang, Temanggung, Kediri, Palangkaraya, Lampung, dan Makassar. “Gerai milik kami hanya satu, di Yogyakarta. Selebihnya milik mitra,” kata David. 

Terdapat tiga paket investasi yakni paket gerobak Rp 25 juta, paket foodcourt Rp 50 juta, dan paket rumah atau ruko senilai Rp 100 juta. Dengan modal tersebut, mitra bisa mendapat ragam fasilitas.  Tapi perekrutan karyawan jadi tanggungjawab mitra. Tugas pusat adalah melatih karyawan.

Soal ketentuan minimal luas tempat usaha tidak atau patokan khusus. Kecuali untuk paket rumah atau ruko  minimal 30 m², dan disarankan 50 m²–60m².

Sedangkan untuk menu, Nagoya Fusion menyajikan 30 menu yang sesuai dengan lidah lokal. Seperti ramen, sushi, udon dan lainnya dengan harga Rp 19.000–Rp 30.000 per porsi.

Saat ini, rata-rata omzet gerai yang sudah berjalan sekitar Rp 40 juta sampai Rp 70 juta per bulan dan laba bersihnya 25%–35% dari omzet. Alhasil, proyeksi balik modal sekitar 15 bulan–20 bulan hingga dua tahun.

Oh iya, mitra hanya perlu membeli beberapa bahan baku impor dari pusat. Kebutuhan lain bisa didapat dari pemasok terdekat.

Soal target mitra, David hanya mematok tambahan tiga mitra setahun supaya bisa fokus melayani kebutuhan mereka. 

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Supit menilai gerai makanan Jepang masih direspon positif oleh pasar. Supaya bertahan, ia menyarankan pebisnis gerai makanan Jepang memperhatikan kualitas rasa, variasi menu dan harga sesuai segmen, Termasuk layanan ke pelanggan.  

Nagoya Fusion
Jl Prof Dr Sarjito No 11 Yogyakarta 55223
HP. 08562851222

Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

WARALABA

Laris manis berdagang ayam mutiara, si idol ayam hias

KONTAN.CO.ID – Ayam mutiara merupakan ayam hias paling populer dibandingkan jenis ayam hias lainnya. Ayam yang berasal dari Afrika ini mempunyai ukuran badan yang lebih besar dengan corak bulu berwarna silver, biru, putih dan lainnya. 

Ditambah suara kokoknya yang nyaring. Sedangkan, ayam mutiara betina  dapat menghasilkan sekitar 50 butir dalam sekali musim bertelur. Inilah yang membuat unggas ini punya banyak penggemar. 
Saiful Aziz, pemilik Syae Farm asal Yogyakarta mengatakan, bila ayam ini sudah populer sejak empat tahun lalu. Namun, sampai sekarang penjualannya masih laris manis. Buktinya, dia sering kehabisan stok anakan ataupun indukan lantaran diborong pelanggan. 
“Stok kami ada 50 ekor anakan dan indukan dan baru saja habis kemarin,” katanya pada KONTAN. Kini, dia bersama temannya mulai kembali mempersiapan produksi anakan baru. 
Harga jual ayam mutiara masih terjangkau, yakni sekitar Rp 100.000 per ekor untuk anakan berumur satu bulan dan Rp 700.000 per ekor untuk indukan berumur delapan bulan. 
Konsumennya pun datang dari Aceh sampai Papua. Namun, penggemar terbanyak ayam hias ini berasal dari Jakarta, Tangerang, dan kota-kota di Jawa Barat. 
Untuk pengirimannya, dia menggunakan jasa kargo khusus hewan dan travel untuk kota yang jaraknya relatif dekat dari kota gudeg. Agar ayam tidak stress, Aziz menyarankan untuk memberikan kandang dengan ukuran besar. 
Alasannya, agar ayam dapat lebih leluasa bergerak mengingat ayam ini cukup aktif . Serta, diberikan pakan buah-buahan berair seperti pepaya untuk menjaga ayam tidak dehidrasi dan kenyang. 
Mugiyanto, Pengurus Ayam Hobiternak.com asal Yogyakarta menambahkan, kandang harus nyaman agar ayam tidak stres selama perjalanan. Saat pengiriman, dia menggunakan jasa kargo bus, kereta dan pesawat. 
Konsumennya pun berasal dari Sabang sampai Marauke, Maklum saja dia menggunakan media digital seperti website sampai Instagram sebagai tempat jual beli. Sementara, kandang ayamnya berada di Magelang. 
Senada dengan Saiful, Mugiyanto juga mengakui ayam mutiara ini memang sudah banyak dikenal sejak lama. Namun, pamornya semakin meningkat saat banyak peternak menawarkan ayam hias ini lewat media digital. “Karena orang sekarang suka browsing jadi penggemar ayam ini makin banyak,” jelas Mugiyanto yang telah beternak ayam mutiara sejak 20 tahun lalu. 
Mugiyanto menjual ayam hasil ternaknya mulai dari Rp 100.000 per ekor (umur 1 bulan) hingga Rp 500.000 untuk ayam dewasa. Sayang dia enggan menyebutkan total penjualan ayam per bulan.                   

Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Johana K.

AGRIBISNIS

  • INDEKS BERITA